Mediapublik.com : Banjarbaru
Di tengah meningkatnya tuntutan pasar global terhadap industri kelapa sawit yang transparan dan berkelanjutan, kemampuan memetakan kebun kini menjadi kompetensi yang tidak kalah penting dibandingkan keterampilan budidaya. Data spasial yang akurat bukan hanya memudahkan pengelolaan lahan, tetapi juga menjadi fondasi bagi keterlacakan (*traceability*) produk, efisiensi usaha tani, hingga akses terhadap berbagai program pemerintah.
Kesadaran itulah yang menjadi semangat dalam **Pelatihan Teknik Pemetaan Kelapa Sawit** Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 yang diselenggarakan **Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY)** bersama **Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP)** dan **Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun)**.
Pelatihan yang berlangsung pada 29 Juni hingga 2 Juli 2026 di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, diikuti 34 peserta yang terdiri atas pekebun kelapa sawit, penyuluh pertanian, dan aparatur sipil negara dari Kabupaten Tanah Bumbu.
Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi, mengatakan tantangan industri sawit saat ini telah bergeser. Tidak hanya meningkatkan produktivitas, pekebun juga dituntut mampu memenuhi standar keberlanjutan yang semakin ketat, termasuk menyediakan data kebun yang akurat, transparan, dan dapat ditelusuri.
"Pemetaan kebun bukan sekadar membuat gambar lokasi, tetapi menjadi dasar untuk mengetahui kondisi kebun secara menyeluruh, mulai dari luas lahan yang sebenarnya, batas kebun, hingga kondisi tanaman. Ini sangat penting untuk mendukung keberlanjutan dan ketelusuran produk," ujarnya saat membuka pelatihan.
Menurut Idum, integrasi antara pemetaan dan budidaya modern akan menghasilkan pengelolaan kebun yang jauh lebih efektif. Dengan data spasial yang valid, pekebun dapat menyusun perencanaan pemupukan secara tepat, menghindari konflik batas lahan, melakukan konservasi tanah dan air, hingga meningkatkan efisiensi biaya produksi.
Lebih jauh, kemampuan pemetaan juga menjadi modal penting bagi pekebun untuk memenuhi berbagai persyaratan sertifikasi maupun regulasi perdagangan internasional yang kini semakin menekankan aspek keberlanjutan dan *traceability*.
Pandangan senada disampaikan Kepala Bidang Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Tanah Bumbu, Agus Dwi Wahyono.
Menurutnya, hampir seluruh program pemerintah di sektor perkebunan saat ini mensyaratkan data spasial yang akurat. Baik Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) maupun bantuan sarana dan prasarana perkebunan membutuhkan titik koordinat yang valid sebagai dasar verifikasi.
"Data spasial yang akurat sangat menentukan kelancaran program pemerintah. Tanpa titik koordinat yang jelas, proses verifikasi akan terhambat. Karena itu kemampuan pemetaan harus dikuasai, tidak hanya oleh pekebun tetapi juga penyuluh dan aparat desa," katanya.
Ia menambahkan, pemetaan juga menjadi instrumen penting dalam mewujudkan pemanfaatan lahan yang lebih efisien, tertata, sekaligus ramah lingkungan.
*Membangun Sawit Berbasis Data dan Teknologi*
Selama pelatihan, peserta dibekali kemampuan pemetaan kebun berbasis teknologi sebagai pelengkap kompetensi budidaya. Pendekatan ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas SDM sawit agar lebih siap menghadapi transformasi industri yang semakin mengedepankan digitalisasi dan pengelolaan berbasis data.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan, drh. Suparmi, menilai penguatan SDM merupakan investasi jangka panjang untuk membangun perkebunan sawit yang produktif sekaligus berkelanjutan.
"Kami ingin memastikan bahwa pekebun tidak hanya mampu meningkatkan produksi, tetapi juga memahami pentingnya data, teknologi, dan keberlanjutan. Pemetaan menjadi salah satu fondasi penting dalam transformasi ini," ujarnya.
Menurut Suparmi, pembangunan perkebunan sawit di Kalimantan Selatan kini dilakukan melalui pendekatan *pentahelix* yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, serta lembaga riset, termasuk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mempercepat pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan kebun rakyat sekaligus memperkuat transparansi rantai pasok sawit dari hulu hingga hilir.
"Ke depan, bukan hanya produksi yang kita kejar, tetapi juga keterlacakan produk dan pengelolaan lahan yang berkelanjutan. Pemetaan menjadi fondasi penting untuk itu," tegasnya.
*Investasi Masa Depan Sawit Rakyat*
Pelatihan ini menunjukkan bahwa transformasi industri sawit tidak lagi hanya ditentukan oleh luas lahan atau tingginya produksi. Era baru perkebunan sawit menempatkan data sebagai aset strategis.
Pekebun yang mampu menguasai teknologi pemetaan akan lebih mudah menyusun perencanaan usaha, memenuhi persyaratan program pemerintah, memperoleh sertifikasi keberlanjutan, hingga menjawab tuntutan pasar global yang semakin mengedepankan transparansi.
Dengan demikian, pelatihan pemetaan bukan sekadar mengajarkan cara membaca koordinat atau membuat peta kebun. Lebih dari itu, program ini menjadi investasi pembangunan sumber daya manusia yang akan menentukan daya saing, keberlanjutan, dan masa depan perkebunan kelapa sawit rakyat Indonesia..(MP)


0 Komentar